Raya

laman yang tak pernah kunjung puas untuk kembali

Dua puluh tujuh Ramadhan hari itu, saya telah berbuat sesuatu yang tak pernah terlintas di benak minda akan terbuatkan.

Tiga hari sebelum hari raya itu, kami anak-anak muda memikul mayat menuruni lembah, menggendongnya melalui denai-denai di lerengan curam, membawanya melepasi anak sungai, dan menanam mayat tersebut jauh di dalam hutan belantara, jauh dari manusia. Seperti pergi menghilangkan bukti kes jenayah layaknya. Itulah realitinya kalau berlaku kematian di perkampungan orang asli. Kuburannya jauh- sangat jauh di dalam hutan sana. Kematian kedua yang saya terima bukan Ramadhan ini. Allahyarham Zum dulu, saya sekadar solat ghaib di masjid. Yang ini, saya menjadi imam solat jenazahnya.

Setiap yang bernyawa pasti akan mati.

Mati.

Mok (nenek) berpesan, “Lepas mok mati nanti, mok nak kamu azan sebelum jenazah mok turun dari rumah.” Sekarang ini mok gering di pembaringan. Angin merah.

Ayah juga berpesan, “Ayah nak kamu jadi imam sembahyang jenazah ayah.” Aduuuh. “Tahlil tak tahlil tu, atas kamu,” ayah berkata di waktu yang lain.

Ya Allah, masukkanlah kami ke dalam syurga firdausmu. (Jangan baca je, sebutlah amiiin.)

5 thoughts on “Raya

  1. assalamualaikum..hebat sekali tulisan..membawa seribu satu makna..
    mg2 diberkatiNya amin..

    za,
    Nebraska,USA

  2. aah za tau ah tunang doh..so abgku dirimu bila lagi???
    anak sedara on da way..
    amin..supaya menjadi pejuang agama nanti..amin amin amin..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s